Seq. 2 - Who?

Beberapa waktu ini aku merasa harus selalu fokus di kisaran 21.30 sampai dengan 22.00 karena 22.00 adalah jam sakral untuk seorang yg sedang menjadi fan kpop. Long story short, beberapa jam yang lalu aku, seperti biasa, scroll twitter, dan menemukan tweets ini,
akan jadi panjang dan di luar konteks sebenernya kalo aku harus menceritakan latar belakang terkait segala hal tentang ini. Tapi mari coba aku persingkat.

Beberapa waktu yang lalu lalu sekali, mungkin bisa dibilang dua sampai tiga tahun yang lalu, aku tergolong yg suka banget denger podcast di Spotify. Karena aku cukup kurang suka untuk beraktivitas dalam keheningan dan kadang dengan muter lagu aku sering ke-distract, jadi aku mencari cara lain dengan memutar podcast ini. Biar rasanya kaya lagi ada temen, tapi omongannya ada isinya gitu. Tapi, dikarenakan satu dan lain hal, aku berhenti mendengarkan hal-hal semacam ini dan bener-bener bodo amat dgn tetep muter lagu.

Lalu sampailah di beberapa minggu ini, mungkin sudah lebih sebulan juga sih, aku mulai follow Tsana di Instagram krn I feel attached aja gitu, meskipun sebelumnya aku merasa kalo kontennya di rintiksedu "anak muda" banget, yang ternyata setelah ngikutin Tsana gak sepenuhnya begitu. Dia ternyata cuma memaknai hal-hal yang terjadi di sekitarnya lewat tulisan. Mulai dari hal itu, aku follow juga tuh Twitternya dan mulai denger podcast Dia yg rame diomongin sama temen-temen yang ngikutin Tsana, yang Dia panggil teri.

Kuas, Kanvas, dan Bulan Kesepian.

Titik baliknya ada di episode yang baru tayang malam ini. Episode 7: Kasih Sayang.

Di menit 6:55 Karin, nama tokoh utama di cerita itu, menceritakan seorang temannya, Naya. Sebelumnya, Tsana sempet spill gimana figur si Naya ini. Sepertinya Naya adalah Tsana. Perempuan dengan karakteristik yang sangat sesuai untuk menggambarkan perempuan-perempuan yang lahir di bulan Mei. She was born on May, 3rd.

"Dia terlalu setia. Kalau makan di suatu tempat nih, Naya, selalu punya menu kesukaan yang selalu Dia pesan dan gak pernah ganti. Itu terus. Naya suka cowok yang rapih, dingin, dan misterius. Dia juga tipe yang mudah untuk mengutarakan isi hatinya. Naya memang lebih berani. Si keras kepala, galak, tetapi hangat hatinya. Menyukai Naya adalah hal yang sulit, makanya gak banyak orang yang bisa jatuh cinta sama Dia sampai benar-benar mengenalnya. Tetapi, kalau sekali saja seseorang jatuh padanya, maka orang itu tidak akan pernah terbebaskan. Tidak ada cinta seindah cara Naya menggambarkannya. Dan orang yang membuatnya jatuh cinta, pasti sangat beruntung."

Berangkat dari potongan podcast itu, aku keluar rumah karena laper. Mau beli makan di luar.

Random-nya ada banget gak tuh.

Tiba-tiba selagi jalan di motor aku kepikiran potongan kalimat itu tadi, sekaligus bertanya ke entah siapa, mungkin angin?

"Emang aku sesulit itu ya buat disayang?"

Selama ini, ada banyak penolakan dan kekecewaan yang gak bisa dideskripsikan tiap aku bahas soal hal yang satu ini.

Aku pernah menjalani hubungan yang tiba-tiba si laki-laki ini gaada angin, gaada hujan, bilang kalau Dia mati rasa sama aku. Dia merasa gak layak untuk selalu aku tanya lagi di mana, kapan pulang, dan hal-hal semacam itu. Dia merasa aku berhak untuk mendapatkan yang lebih dari Dia sampai Dia bilang waktu putus, kalo ga akan punya pacar sampai aku punya pacar duluan.

I was so young back then, but I remember it all.

Aku pernah juga menjalani hubungan dengan laki-laki yang gaada angin, gaada hujan juga, tiba-tiba selingkuh, gaada permintaan maaf, gaada penjelasan apapun. All that I know, dia merasa di setiap perdebatan harus selalu mengalah sama aku. Padahal seingetku pun, dulu aku masih belum sekeras itu.

Aku pernah menjalani hubungan dengan laki-laki yang baik tutur katanya, perbuatannya, semuanya, sama sekali gaada cela. 3 tahun. Dan berakhir karena Dia merasa aku gak layak untuk diperjuangkan, karena latar belakang keluarga dan kehidupan kita berbeda. Aku gak terlahir dengan mempelajari hal yang sama seperti Dia.

Aku inget banget, dulu, pernah ada salah satu temen yang ngomong,

"Kalo sama dia udah pasti akan langsung nikah gak sih? Serius banget gitu orangnya kan, gaada kelihatan main-main jadi laki-laki."

and here I am. Beberapa bulan yang lalu, Dia sudah menikah. Menikahi perempuan yang sama dengan latar belakang keluarga dan kehidupannya dari kecil. I am happy to see him happy, tho. Tapi selalu ada pertanyaan di lubuk hatiku yang paling dalam,

"Aku se-nggak layak itu ya untuk Kamu perjuangin?"

:)

But, that was fine. Gak akan merubah apapun dan life is still going on.

Yang terakhir, adalah tokoh utama yang ada di beberapa postingan ke belakang. He might still be the "Pemeran Utama" sepertinya, karena aku masih sering bahas hal yang masih ada sangkut-pautnya dengan dia. Not because I'm still into him, tapi lebih ke perasaan sakit hati yang aku sendiri pun bingung harus dijelasin seperti apa.

I was the one who got scolded everytime he was not in the mood.

Aku selalu masakin apa yang dia mau, sekalipun hari itu aku masih di kantor, aku langsung buru-buru pulang.

Aku pun yang belanja ke supermarket, sendirian, naik motor. Meanwhile, he had his car and didn't even use it or even offered to drop me out.

Aku yang bahkan selalu bingung harus makan apa, justru mikirin gimana caranya masak apapun yang dia mau.

And all that I got was,

"Aku udah berusaha, Me. Tapi aku gabisa buat sayang sama kamu dan aku kan gabisa maksain untuk itu."

Hal-hal semacam itu, terlebih hal-hal yang menyakitkan, entah kenapa, aku justru bisa inget dengan lebih jelas, dibanding hal-hal baik. It still triggered me a lot. Meskipun aku mungkin sudah bisa gak peduli dengan orangnya, tapi perbuatannya masih tergambar dengan jelas di ingatanku.

Untuk nulis hal-hal seperti ini, that was not easy at first. Aku harus mikir gimana kalo ybs baca, gimana kalo temen-temen yang ada di lingkunganku pun juga, gimana kalo nanti mereka jadiin ini semua bercandaan kaya yang udah-udah. Gimana?

But, yep. Kenapa aku harus mikirin orang-orang yang mungkin di sekian menit waktunya itu gak pernah mikirin aku. All that I have to think is Me. Only Me. I only have to do what I want and as long as it doesn't give anyone bad impact, it's fine. Kenapa harus selalu aku yang mikir?

Sampai detik aku nulis ini pun, aku masih sangat berusaha untuk memperbaiki mindset kalo itu semua bukan salahku. Aku layak kok. Aku berhak untuk dapet yang aku mau. Aku layak untuk diperjuangin juga, suatu saat nanti. Entah kapan dan oleh siapa.

Mungkin waktunya memang bukan kemarin, pada saat itu, dan oleh orang itu juga. Tapi, bukan berarti hal itu gaakan kejadian besok, suatu saat nanti, dan oleh orang lain. :)

Komentar

Postingan Populer