The Books

Minggu lalu, sepulang dari nemuin temen yg kebetulan lagi mampir ke sini, aku iseng ke Gramedia, yang yah meskipun aku sendiri pun paham betul kalo sepulang dari sana ga mungkin dengan tangan kosong, krn aku adalah aku:)

Kemarin, entah knp kepikiran pgn baca bukunya gitasav. I knew her since long time ago, but I couldn't exactly remember when. Yang jelas dulu waktu konten-konten Dia masih seputar vlog kesehariannya tinggal di LN aja dan kebetulan karena aku masih rajin baca, jadi sering mampir ke blognya. I like her writings!

Long story short, akhirnya kebeli lah itu si Rentang Kisah dan A Cup of Tea. Seingetku A Cup of Tea adalah nama blog Gita. Untuk seorang aku yg entah kenapa beberapa waktu belakang cuma bisa beli buku ini itu tapi gaada yg dibaca, bisa langsung kelarin Rentang Kisah nih wajib untuk diapresiasi sih hahaha. Cuma karena isi bukunya kurang lebih sama dengan perdebatan batinku saat remaja, cielah remaja, jadi aku merasa gaada yang perlu untuk dibahas lagi.

Waktu beli buku-buku Gita, aku ditemani oleh seorang teman, yang waktu tau aku berencana beli buku Gita responnya cuma, "Aku kurang suka sih sama Dia. Hidup di bubble-nya sendiri." Sepertinya temanku ini kurang paham atau mungkin belum paham, kalo temennya sendiri pun pribadi yg seperti itu. Daridulu pun, ga sulit buat aku untuk paham segala sesuatu yang berusaha Gita sampaikan lewat media sosialnya, meskipun hal-hal itu akan selalu mendapat respon kontra lebih besar daripada pro-nya. But, I'm the pro one. Meskipun mungkin ngga di semua hal aku setuju dgn pendapat Gita, tapi ya Dia ngga sesalah itu juga untuk dihakimi sepihak sama masyarakat yang bahkan sama sekali ngga tau apa-apa atas hidupnya. Orang-orang ini kadang pikiran dan tangannya jahatnya suka kelewatan.

Hari ini aku selesai baca A Cup of Tea, yang dibanding dengan Rentang Kisah, rasanya lebih ngena banget di buku yang kali ini. Mungkin karena di Rentang Kisah lebih menceritakan gimana proses buat tumbuh dan mengenal hal-hal baru kali ya. Lebih banyak cerita, "Oh..ternyata.." dan di A Cup of Tea meskipun tetap sebuah proses kehidupan, tapi lebih ke how to deal and live with it. As an adult. As a human. Yang ternyata susahnya bukan main.

Aku mau ngutip bagian yang aku suka dari novel ini, tapi karena ini cuma blog manusia biasa, dan aku gamau repot, jadi aku ga akan menulis sesuai prinsip penulisan yang benar.

Hlm. 146,

"Selama gue hidup, gue diberi tahu untuk mengubur dalam-dalam saja semua trauma tersebut. Biarkan waktu yang pelan-pelan menyembuhkan dan membantu melupakan. Jangankan bersedih, mengeluh pun sering dianggap buruk. Mungkin cara itu bisa berfungsi untuk sebagian orang, tapi makin gue coba melakukan itu, lama-lama gue sadar bahwa melupakan bukanlah kemampuan yang gue punya. I remember everything and it sucks. Dan dengan mengubur dalam-dalam semua luka, gue seperti sedang merakit bom waktu yang bisa tiba-tiba meledak."

Kenapa?

That was exactly me, some time ago.

Sepanjang aku hidup rasanya setiap mulai merasa ngga sesuai dengan hal-hal tertentu dan menceritakan itu ke orang lain, dengan harapan aku mungkin bisa mendapat insight yang masuk akal, tapi aku malah disarankan untuk menerima dan membiarkan aja. I have tried to. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa berlaku agar aku melepaskan si beban dan hal-hal yang sekiranya kurang menyenangkan, di aku.

Setiap aku merasakan si emosi berupa marah, "Sabar, sabar, ga usah marah-marah.."

Emosi berupa kesedihan, "Udah biarin aja, biar Allah yang bales."

That's not how it works on me. Hehe

Ada satu lagi yang aku suka dari novel ini, ada di bab paling akhir, bab Refleksi Akhir Dekade, Gita menyebutkan bahwa Dia pernah membaca sebuah artikel dari sebuah website bisnis yang di mana di web itu ada lima pertanyaan esensial yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri sebagai bentuk refleksi atas segala sesuatu yang sudah terlalui selama hampir 10 tahun terakhir. Dan berhubung bulan ini berada di penghujung tahun 2021, I think I want to answer these kind of things, tapi di postingan setelah ini aja kayanya hehehe.

The questions are:

  1. What were three to four highs and three to four lows?
  2. What enabler or motivated you to reach those highs, and how did you successfully move through the lows?
  3. What worked and didn't work? What do you need to do more and less of?
  4. What stressed you out the most and how could you navigate it better?
  5. What were you most grateful for in 2021 and how can you take that into 2022?

Komentar

Postingan Populer