Seq. 0

Been years.

Hal yang paling aku inget daridulu, waktu masih rajin nulis, dan berkecimpung dengan berbagai tulisan adalah berhenti untuk merangkai kata-kata yang layak, yang sesuai dengan mata orang yang nantinya mungkin akan baca tulisan ini, entah disengaja ataupun nggak. Berhenti. Tulis apa yang sekiranya muncul di pikiran saat ini, apa yang sekiranya tangan ini mau untuk ketik. Tulis. Berhenti buat mikirin pandangan orang lain.

Dulu sih, berhasil.

Sekarang? Aku ga yakin.

Been years.

Udah bertahun-tahun aku ga nulis lagi. Padahal dulu nulis jadi salah satu coping with my mind yang paling efisien, tanpa perlu pergi ke sana ke mari, beli ini itu, for the sake of healing. Ga tau apa dulu yang akhirnya buat aku berhenti buat jadiin nulis sebagai media untuk releasing stress.

Ah.

Aku malu sendiri tiap harus re-read apa yang aku tulis.

Really? Kamu sesedih itu, Mei, pada saat itu?

Pertanyaannya selalu seperti itu. Ujung-ujungnya tulisan itu aku balikin ke draf lagi atau justru aku hapus hahahaha.

And today, here I am again.

Semua media kayanya udah berusaha aku jalanin untuk coping with everything that ever happened in my life. Sebenernya hari ini aku ngerasain apa juga, aku sendiri ga paham. Aku sendiri pun bingung untuk menginterpretasikan perasaan yang beberapa waktu ini aku rasain.

I am not that sad. Tapi dibilang bahagia pun juga nggak.

Tapi tiap kali aku liat ke sesuatu yang kebetulan juga lagi aku senengin, I am fluttering.

Bingung kan?

Aku beberapa waktu ini juga ngerasa seperti kecewa, tapi ga tau kecewa ke siapa dan atas apa.

Bahkan sampe ada perasaan marah yang buat hati, bahkan kepalaku sampe panas sendiri.

Tanpa tau juga itu apa.

Do I have to open it one by one?

Apa mungkin karena aku berusaha untuk mengetahui dan memaknai itu semua dengan bersamaan, jadi aku ga bisa paham itu apa?

Deep down, I need someone to talk to. Tapi sampe detik ini aku belum ketemu sama orang itu lagi. I don't have enough energy juga untuk menemukan orang yang seperti itu secara sengaja. Jadi, kalopun di sepanjang jalannya hidup ini aku dipertemukan dengan orang yang seperti itu lagi ya alhamdulillah, kalo ngga juga yaudah gpp.

Aku harus jalan sepelan apa ya, biar ga terasa terlalu buru-buru?

Aku harus merapikan pikiranku dengan metode apa supaya aku ga kebingungan sendiri?

Do I have to start it all over again?

To find the old, the best version of myself? That may suitable today's life, for me?

Should I?

Komentar