What 2.0

That things was too dramatic and hard for me. I even still got the bad vibes everytime I accidentally bumped into it.

And people don't know it...

It took days for me to understand what happened between us.

To accept that he wasn't that good for me,

AT ALL,

and I should just move on.

And for the things that woke me up, I don't think I should tell what it was.

But..

Things just didn't stop there.

Aku masih harus ketemu dia setiap hari dan kebayang-bayang betapa jahatnya perbuatan dia ke aku, yang bahkan sampe detik ini pun aku ga pernah dapet jawaban atas itu.

He only said that,

Aku terlalu baik buat dia.

Dan dia terlalu buruk buat aku.

Dia ga bisa gitu aja berubah jadi orang baik hanya karena keberadaanku di samping dia.

Aku membebani dia.

Karena perasaannya kalau keberadaanku menuntut dia untuk harus selalu berbuat baik.

Dia mau sendiri dulu untuk mikirin semua perbuatan dia.

You just told me some bullshits, ya?

He was engaged anyway. Congratulations.

The man who got me suffering is getting married.

:)

Funny life?

Aku bahkan untuk mengucap doa baik aja ga mampu rasanya, karena aku merasa kamu ga berhak untuk itu. Aku rasa dengan nggak terucap kalimat jahat aja udah bisa dikategorikan sebagai doa baik.

And, to end this story-telling, I think I should have to say this.

Sebagian orang mungkin kurang paham kalo ada beberapa hal yang orang ga pingin untuk dibahas lagi setelah hal itu kejadian.

It might bring them pain that you couldn't and wouldn't understand.

Jadi, kurang sopan,

oh nggak,

GAK SOPAN aja rasanya, jadiin perasaan sakit hati orang lain, pengalaman kurang menyenangkan orang lain untuk bahan bercandaan.

Selama ini aku diam karena aku pikir orang-orang akan paham dengan arti diam itu. 

But, I guess, not?

Tapi, ya, aku harus sadar juga kalo aku gak ada hak untuk ngebungkam mulut orang-orang yang gak bisa berempati.

Tapi aku bisa tutup telinga buat gak dengerin hal-hal semacam itu.

We are all being stupid for some reasons.

Remember.

Komentar

Postingan Populer