Seq. 1 - What?

What?
What are you doing?
What are you thinking of?
What do you want to do?
What?

I'm good. I think these past days, weeks, or even months I was doing good. I'm doing things pretty good.

Since my last loss, rasanya aku juga kehilangan beberapa hal yang ada di diriku sendiri.

I wasn't sure what it was, I just knew that it was too much, since I couldn't count it out.

But, I am good, now.

Untuk melalui, menghadapi, dan menerima beberapa hal, aku cenderung pengecut. Aku lebih sering kabur dan menjauhi masalah itu untuk beberapa saat. Terlebih hal yang berkaitan dengan aku sendiri, bukan menyelesaikan 'sesuatu' dengan orang lain. Aku cenderung mengurung diri, berhenti untuk menemui sebagian besar orang, dan sibuk menghabiskan waktu dengan pikiranku. It wasn't good. But, that's me. I should admit that I am not good tho.

Di hubunganku yang terakhir, perasaan gagal jadi manusia besar banget. Sebesar itu sampe gabisa aku jelasin ke siapapun gimana rasanya.

Aku kehilangan terlalu banyak hal.

I just remembered that I was just being me at first.

Aku yang seumur hidup selalu merasa harus menang dari berbagai hal, bahkan argumen sekecil apapun itu, aku mengalah. Aku pikir mungkin dengan itu, I was helping those relationship. Aku pikir selama ini hubunganku berakhir gak baik, mungkin karena aku yang terlalu egois, aku terlalu sering mikirin diri aku sendiri, kemauanku sendiri, tanpa peduli posisi lawan bicaraku, tanpa peduli gimana perasaan mereka juga atas apa yang aku lakuin. I thought so.

Aku harus selalu menyesuaikan mood dia, bahkan di saat moodku sendiri pun gak bagus, aku tetep harus mengerti dia. Dia marah ke aku atas sesuatu yang bahkan ga aku lakuin, aku terima. Bahkan ngebentak aku hanya karena hal spele pun, aku terima. Aku pikir, pada saat itu, aku emang salah. Aku emang berhak untuk diperlakukan seperti itu.

Tiap kali rasanya mau berhenti, dia tiba-tiba baik lagi, dan seolah bilang kalo semua hal ga baik yang pernah dia lakuin sebelumnya, semata-mata karena dia juga manusia, yang punya khilaf dan ada salahnya.

Aku maafin.

Karena aku pun juga manusia.

Aku punya banyak salah juga dan aku pikir, aku ga berhak untuk menuntut lebih atas orang lain, di saat aku sendiri pun juga belum sebaik itu.

Aku selalu minta maaf. Bahkan untuk segala sesuatu yang gak pernah aku lakuin.

Kamu yang masih chat sana sini, di kondisi aku ada di sebelahmu, aku yang minta maaf.

Kamu yang bahkan masih menjanjikan perempuan lain buat kamu nikahin, saat aku bahkan ngikutin semua kemauanmu, setiap hari, aku yang minta maaf.

Aku yang harus minta maaf karena ga ngertiin kondisimu itu.

Aku yang minta maaf karena ikut campur sama yang bukan urusanku.

Aku.

And the worst part of you was, di saat aku harus lembur kerjain deadline, bisa-bisanya kamu pergi dan tidur sama perempuan lain di luar sana.

:)

Tanpa permintaan maaf, justru marah.

"Kamu sendiri tau dari awal aku sebejat apa. Kenapa masih mau sama aku?"

Hahahaha.

Setelah itu pun, beberapa hari aku masih berusaha buat ngejar kamu.

Aku merasa aku perlu jawaban kenapa aku harus diperlakuin seperti itu, di saat aku udah buat semuanya yang kamu mau.

Aku mau tau.

Tapi............

Kamu bahkan pergi gitu aja.

No words.

No explanations.

Nothing.

Dan bodohnya aku, aku masih merasa perlu jawaban.

Egoku merasa aku ga bisa diperlakuin kaya gitu.

Kamu ga berhak.

Kamu bahkan pergi dari rumah.

Tinggal di tempat baru, ditemenin perempuan lain?

Hahahaha.

Ada rasanya puluhan kali aku telfon kamu.

Ratusan chat. 

Dan ga ada satupun dari itu yang kamu jawab.

Sekalinya ketemu, kamu bilang aku freak.

Where was your sorry?

Komentar

Postingan Populer